Dasar Pemikiran Pameran Bali Megarupa 2019

Sabtu, 09 November 2019 : 14:27
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menandatangani poster saat pembukaan pameran Bali Megarupa di Museum ARMA, Selasa 22 Oktober 2019.
Latar Belakang

Sejarah peradaban Bali dibangun dan direfleksikan melalui jejak artefak seni rupa dalam beragam media dan dimensi. Jejak perundagian dan estetika Bali, seperti nekara Pejeng, patung sakral Datonta yang berusia ratusan tahun, beragam pratima, rerajahan, pewayangan, topeng, kaligrafi, merupakan deretan panjang pencapaian adibudaya yang menghiasi historiografi Bali.

Seni rupa Bali membentang sebagai ekspresi komunal, pribadi, dan juga wilayah. Seperti tradisi seni lukis klasik wayang Kamasan (Klungkung), seni lukis kaca Nagasepaha (Buleleng), seni lukis gaya Ubud (Padangtegal, Pengosekan, Keliki, dan lain-lain), gaya Batuan (Gianyar), dan lain-lain. Selain bidang seni lukis, juga berkembang seni patung, instalasi, video art, seni rupa pertunjukan, mural, dan lain-lain, telah menjadi media imajinasi perupa Bali dari masa lalu hingga kini.

Seni rupa Bali telah berkontribusi menjaga dan memajukan reputasi Bali dan Indonesia. Sangat banyak karya tradisi Bali yang telah menjadi koleksi museum dunia, seperti sederet museum di Eropa (Belanda, Swiss, Jerman, Swedia, dan lain-lain), termasuk koleksi Art Institute Chicago, Amerika Serikat. Belum lagi hiruk pikuk perbincangan di jurnal ilmiah, buku-buku internasional, dan media publikasi yang lain. Karya maestro seni rupa Bali juga mewarnai pasar seni rupa internasional, seperti terlihat dalam sejumlah balai lelang internasional.

Selain menghidupkan kebudayaan komunal, media seni rupa telah menyejahterakan sangat banyak pribadi dan keluarga seniman. Andaikan di setiap banjar terdapat 10 orang seniman seni rupa, maka di 1.493 desa adat di Bali setidaknya ada 14.930 seniman seni rupa. Belum lagi menyebut profesi lain yang berada dalam ekosistem seni rupa, seperti galeri seni, kurator, art dealer, penjual peralatan alat seni rupa, pemandu wisata, penulis, jurnalis, dan seterusnya hingga para asisten seniman.

Sesungguhnya banyak perupa Bali yang telah memiliki reputasi nasional dan internasional, yang mesti secara berkesinambungan diajak berkontribusi terhadap perkembangan seni rupa Bali secara keseluruhan. Terlebih hampir sebagian besar perupa Bali yang hidupnya belum sejahtera, walau pencapaian karyanya terbilang unggul dan mendapat apresiasi yang luas. Sebagai akibatnya, tidak sedikit perupa berbakat pada akhirnya tidak melanjutkan proses ciptanya lantaran terkendala hal yang bersifat elementer dalam kehidupan sehari-hari, terutama keterbatasan mengakses sumber dana untuk membeli bahan dan peralatan berkarya. Menimbang posisi penting dunia seni rupa Bali, berikut potensi sumber daya manusianya yang melimpah, maka dipandang perlu untuk membangun ruang sinergi, interaksi, dan kolaborasi: Bali Megarupa yang mengakomodasi seluruh potensi seni rupa yang berkembang.

TUJUAN
  • Menuju agenda tahunan pameran seni Bali Megarupa yang lintas batas, multimedia, dengan beragam capaian ekspresi pribadi dan komunal.
  • Menjadi wahana sosialisasi, mediasi, dan komunikasi yang meluas tentang visi pemajuan seni dalam kerangka pola pembangunan semesta berencana Provinsi Bali (Nangun Sat Kerthi Loka Bali).
  • Menjadikan Bali sebagai pusat pemajuan seni rupa.
  • Menjadi sarana penumbuhan elan kreatif perupa Bali dalam ragam ekspresi seni visual partisipatoris, kolaboratif, dan kemitraan kreatif.
  • Menjadi wahana aktualisasi pencapaian tertinggi dan terkini perupa Bali, atau perupa dari luar pulau yang memilih Bali sebagai ruang studio.
SASARAN
  • Meningkatkan kreativitas dan produktivitas perupa Bali dalam melahirkan karya seni visual yang bermutu, original, unggul, dan berkarakter.
  • Meningkatkan produksi wacana dan tradisi perumusan konsep estetika di kalangan pengamat, pemikir, peneliti, jurnalis, dan pencinta seni visual.
  • Meningkatkan apresiasi publik terhadap pencapaian seni visual Bali terkini.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan Kun Adnyana (kiri) menyerahkan katalog pameran kepada Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati disaksikan pemilik Museum ARMA Anak Agung Rai saat pembukaan pameran Bali Megarupa, Selasa 22 Oktober 2019.
Tema:
"Tanah, Air, dan Ibu"
Tema ini ingin mempertemukan berbagai pemikiran dan kehendak untuk menjadikan pameran perdana ini menjadi rentang jalan menuju perhelatan ideal ‘Bali Megarupa’ yang kelak dapat digelar secara berkala setiap tahun. Melalui tema tersebut dapat diperinci empat pendekatan yang mencerminkan dinamika seni rupa Bali dari tradisi hingga kontemporer yakni : Hulu, Arus, Campuhan, dan Muara.

Hulu (Lokasi Pameran: Museum Puri Lukisan)
Hulu merepresentasikan hal ihwal (akar) seni rupa Bali yang merunut unsur-unsur kosa rupa seni tradisi maupun klasik. Seni rupa tradisi maupun klasik menghadirkan berbagai lapisan capaian yang menarik untuk ditelisik, diwacanakan, dan dieksplorasi lebih jauh.

Yang pertama, tentu saja dari aspek visual atau kerupaan. Seni lukis tradisi maupun klasik memiliki beragam karakteristik visual sekaligus menggambarkan elaborasi teknik yang layak diidentifikasi lebih dalam. Secara visual, garis dapat dikatakan sebagai titik berangkat dari seni lukis tradisi maupun klasik Bali. Garis tak semata adalah unsur elementer yang mengkonstruksi visual, namun garis adalah sebuah kekuatan yang memberikan sebuah karakteristik dalam seni rupa tradisi maupun klasik Bali khususnya seni rupa dua dimensionalnya.

Dari garis ini kemudian terkontruksi aneka rupa visual mulai rerajahan, ornamen dan wayang sebagai tematik awal seni rupa klasik dan tradisi Bali. Dari segi teknik dalam seni rupa tradisi maupun klasik Bali juga dikenal berbagai teknik yang spesifikdan khas, sigar mangsi, abur, cawi, ucek, dan lain sebagainya adalah teknik teknik yang menjadi karakteristik visual dari sebuah karya seni rupa tradisi Bali.

Yang kedua, seni rupa tradisi dan klasik Bali juga tumbuh dalam dua lokus penciptaan. Yang pertama seni rupa tradisi dan klasik Bali hadir dalam ruang ruang komunal. Jika kita analogikan sebagai sebuah bahasa maka seni rupa tradisi dan klasik Bali memiliki beberapa varian dari bahasa atau dialek visualnya yang tumbuh dan terus digeluti oleh komunitas masyarakat komunal pendukungnya. Lihat misalnya di Bali berkembang gaya lukis klasik Kamasan, gaya Batuan, gaya Ubud dan turunanya (Pengosekan, Padang Tegal, Kutuh, Sayan Baung, dan lain-lain) , gaya Nagasepaha Buleleng, Kerambitan dan lain sebagainya. Setiap gaya memiliki karakteristik visualnya masing masing yang diwariskan secara terus menerus oleh para pewarisnya oleh para “penutur “ dialek rupa komunal di masing-masing wilayah tersebut.

Yang ketiga, selain diwariskan dan diteruskan secara komunal oleh masyarakat pendukungnya, dari masing masing gaya atau dialek visual seni rupa tradisi ataupun klasik yang disebutkan di atas terdapat pula seniman seniman yang melakukan pencarian, dan pengolahan lebih jauh atas dialek rupa komunal tersebut hingga memnpribadi dalam ruang ruang kreativitas personal mereka. Jika kita meminjam lagi terminologi dalam dunia bahasa untuk menjelaskan hal ini maka dalam dialek rupa komunal tersebut melahirkan personal-personal seniman yang hadir dengan ideolek rupa mereka sendiri yang masih dapat kita lacak akarnya pada dialek rupa komunalnya.

Dari tiga hal tersebutlah kuratorial “Hulu” ini akan berangkat. Frame kuratorial ini akan mencoba menghadirkan karya-karya seniman Bali lintas generasi yang secara visual kekaryaannya berangkat dari seni rupa klasik dan tradisi hingga tercermin dalam gaya visualnya yang mempribadi. Para seniman yang akan diundang untuk merespon dan mempresentasikan capaian capaian kreatif mutakhir mereka dalam subtema Hulu ini adalah para perupa yang menjadikan garis, drawing, seni lukis tradisi dan klasik sebagai basis dan titik berangkat dalam menghadirkan karya-karya yang bergerak dinamis sesuai dengan spirit masanya masing-masing.

Secara kekaryaan dalam kuratorial ini tidak semata menghadirkan karya para seniman yang berasal atau tertaut langsung dengan gaya atau dialek rupa komunal dari masing-masing lokus atau wilayah yang dikenal sebagai pusat pusat perkembangan seni rupa klasik dan tradisi Bali semisal gaya Kamasan, Batuan, Ubud, dan turunanya, Nagasepaha Buleleng . Namun juga akan dihadirkan karya-karya dari para seniman yang menghadirkan garis, gambar, hingga seni cetak manual (printmaking) untuk memperlihatkan bagaimana garis menjadi elemen penting sebagai awal atau hulu dari aliran sungai penciptaan sebuah karya seni rupa. Maka dari itu akan tampil pula para seniman dengan basis kekaryaan prasi (seni gambar daun lontar), drawing hingga seni grafis manual (printmaking).

Arus (Lokasi Pameran: Museum Seni Neka)
Perkembangan seni rupa modern di Bali tidak bisa dilepaskan dari bebagai arus yang telah dirintis oleh para pendahulu melalui berbagai bentuk eksplorasi. Sebutlah misalnya Nyoman Tusan (lulusan seni rupa ITB) yang mengeksplorasi khazanah ikon tradisi Bali, seperti cili, seturut penyikapan kreatifnya atas gaya kubisme. Layak dicatat gerakan awal Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang menggali ikonik-ikonik tradisi Bali dengan bahasa rupa ekspresionisme-abstrak hingga langgam yang mempribadi. Tertaut itu patut dikedepankan peran Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Pande Gede Supada, Wayan Sika, Nyoman Erawan, Made Budiana, hingga yang lebih muda seperti Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, dan lain-lain.

Gerakan eksploratif tersebut dalam perkembangannya juga diperkaya dengan penggalian-penggalian yang bersifat individual terkait dengan kecenderungan tematik, corak, bahasa rupa, dan sebagainya. Semua hal itu melahirkan beragam arus yang mengaliri ‘urat nadi’ sungai seni rupa di Bali.

Konsep yang terinci pada "Arus”, “Hulu”, “Campuhan”, dan “Muara” menjadi metafora menarik untuk dipakai sebagai pembacaan awal terhadap kecenderungan dan dinamika seni rupa di Bali. Dengan kata lain Arus telah menjadi salah satu sumber energi seni rupa di Pulau Dewata. Tentu dalam dinamika yang panjang tersebut arus membuka berbagai kemungkinan. Arus bisa menjadi deras dan cepat, namun bisa juga lambat bahkan mengalami kebuntuan (macet). Bagaimanakah Arus seni rupa Bali terkini? Karya-karya yang akan ditampilkan dalam pameran kali ini semogamerefleksikan berbagai kemungkinan kreativitas dunia seni rupa.

Campuhan (Lokasi Pameran: Museum ARMA)
Dilema yang dialami para pelukis lintas generasi ini, baik dalam pencarian visual maupun tematik serta proses kreatifnya, pada hakikatnya juga dihadapi seniman-seniman Bali lainnya, baik yang bermula dari tradisi, maupun modern, atau bahkan kontemporer. Warisan tradisi yang dipandang adiluhung memang membantu mereka untuk mencapai tahapan tertentu, yang boleh jadi menghasilkan karya-karya yang cukup mengejutkan dan menjanjikan. Akan tetapi, warisan tradisi tersebut pada tahapan berikutnya, ketika dihadapkan kenyataan yang telah berubah sebagai akibat kemodernan dan keglobalan tak terelakkan, seakan malahan menghalangi kemungkinan berekspresi secara lebih bebas dan merdeka. Walau tak dapat dielakkan, sebagai reaksi sekaligus resistensi, banyak pula penghayat dan pengagum seni-seni lukis tradisi, mencoba untuk terus eksis di tengah perlakuan publik yang dirasakan lebih ‘memihak’ pada seni-seni bersemangat kekinian.

Sejurus hadirnya kemodernan –termasuk keniscayaan sejarah di mana Bali menjadi bagian dari dinamika ke-Indonesiaan– mengemuka pula pergulatan perupa yang menggambarkan tahapan lintas budaya (trans-culture) atau silang budaya (cross-culture) –membenturkan sekaligus juga mempertautkan nilai-nilai warisan leluhur (tradisi) dengan nilai-nilai budaya lain. Pada sebagian karya, merefleksikan nilai-nilai baru yang akulturatif, di mana unsur-unsur pembentuknya masih dapat dilacak asal muasalnya. Atau suatu capaian yang bersifat asimilasi, mengandaikan pertemuan antarkultur –menghasilkan sesuatu yang baru dengan unsur dasar yang telah dianggap luluh sepenuhnya.

Kata Campuhan sendiri merujuk pada percampuran berbagai aliran sungai yang membentuk atau menjelma sebagai sungai tersendiri – hal mana ini mencerminkan dunia seni rupa Bali pada tahapan sebagaimana digambarkan di atas. Dengan kata lain, dunia seni rupa Bali hakikatnya memiliki determinasi sejarahnya sendiri, yang telah “meng-ada” jauh sebelum dibaca sebagai bagian dari sejarah seni rupa Indonesia.

Melalui karya-karya terpilih dengan beragam stilistik, tematik, serta estetik ini, kita akan menyaksikan pergulatan para seniman sewaktu menyikapi bukan hanya wiracarita Ramayana dan Mahabarata atau mitos-mitos tertaut historis yang membayangi keseharian pun tata nilai warisan leluhur (local wisdom), melainkan juga wujud rupa modern yang hadir sejurus pertemuan para seniman itu dengan dunia akademis berikut aneka kosa rupa yang datang dari sisi Indonesia lainnya; dari negeri-negeri lintas benua yang entah belahan Barat atau pun Timur.

Muara (Lokasi Pameran: Bentara Budaya Bali)
Muara adalah kosa kata yang merujuk pada kisah perjalanan air yang tiba di hilir. Air yang semula bening di hulu setiba di muara boleh jadi berubah warna. Ini cerminan dariberbagai kontradiksi yang dialami air, laiknya pertemuan berbagai paradigma dan idiom seni rupa yang bersifat lintas batas, kolaboratif, partisipatif, merujuk pada sekian kemungkinan estetik.

Ini adalah penyikapan kreatif perupa Bali terhadap fenomena modernisme berikut dinamika berbagai gerakan yang mengkritisinya. Tergambar dalam aneka presentasi yang nonkonvensional semsal, seni instalasi (installation art) serta berntuk-bentuk seni mediabaru lainnya. Gejala plural seni rupa Indonesia menemukan momentum pada 1980-an, tidak terkungkung dalam satu bingkai estetik, seperti yang terlihat dalam seluruh perkembangan seni rupa Indonesia. Sanento Yuliman mengukuhkan pandangan tentang pluralisme dalam pengantar pameran Pasaraya Dunia Fantasi pada 1987 yang menampilkan lambang-lambang kebudayaan massa seperti, iklan, komik, dan majalah dari seni rupa bawah dalam kehidupan sehari-hari, dimana seni rupa kembali mempersoalkan masalah kemasyarakatan.

Seniman-seniman Bali yang menyadari sedini awal gejala ini dan menjadikan paradigma baru dalam konsep penciptaan adalah seniman-seniman akademis seperti: Made Wianta, Nyoman Erawan, Made Djirna, kemudian Made Budhiana. Karya-karya seniman ini menampilkan masalah-masalah masyarakat dalam lingkup yang lebih luas, yaitu konteks budaya, secara umum dapat dilihat ciri-ciri konsep visual yang dihadirkan seniman ini adalah (1) Tidak lagi berusaha menaklukkan wilayah artistik baru, malah keluar dari wilayah artistik dengan kode khusus (seni patung, seni lukis), (2) Semua tradisi yang medandakan eksplorasi artistik yang menjadi ciri modernisme tidak lagi menjadi utama, (3) Pencarian keaslian, teknik baru, esensi ekspresi, eksplorasi media, kontruksi unsur-unsur rupa tidak lagi dipersoalkan. Serta merta hadir karya-karya dengan idiom-idiom alternatif seperti: instalasi, video, fotografi, media campuran (mix-media), pengolahan obyek jadi (ready-mades, found objects) dan seni rupa pertunjukan (performance art). Dikemudian hari idiom-idiom ini semakin menarik minat dan mendapat tempat istimewa khususnya seni instalasi.

Perbincangan seputar wacana seni rupa kontemporer Indonesia semakin riuh, terutama pada aktivitas biennale berikutnya pada 1990-an. Di Bali, para seniman lintas bidang berkolaborasi, sekat-sekat keilmuan justru menyempurnakan bentuk-bentuk presentasi seni mereka ke ruang publik. Seorang arsitek bisa saja berkolaborasi dengan fine art artist sekaligus videografer mengusung paradigma seni instalasi seperti: Situs dan Ruang, Keterlibatan Aktif Pengamat, serta Multi Objek. Hal ini menjadi frame kuratorial pada venue Muara di Bentara Budaya Bali. Seniman yang diundang membawa paradigma baru di luar idiom konvensional.

NAMA KEGIATAN
Pameran Seni Rupa Bali Megarupa

PENGGAGAS DAN PENYELENGGARA
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali

WAKTU PELAKSANAAN
22 Oktober-10 November 2019

TEMPAT PELAKSANAAN
  • Museum Puri Lukisan
  • Museum Seni Neka
  • Museum ARMA
  • Bentara Budaya Bali
KURATOR
  • Wayan Sujana Suklu
  • Warih Wisatsana
  • Made Susanta Dwitanaya
  • Wayan Jengki Sunarta
Pembukaan:
Ritus Seni Tarirupanunyi Kidung Megarupa (Karya Nyoman Erawan)
Selasa Kliwon, 22 Oktober 2019, Pukul 17.00 di Museum ARMA, Ubud

Diskusi Seni Rupa:
"Gerakan Seni Rupa Bali sebagai Seruan Kesadaran"
Narasumber: Nawa Tunggal (Jurnalis KOMPAS), Bambang Bujono (Budayawan), Wayan Kun Adnyana (Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali)
Rabu, 23 Oktober 2019, Pukul 14.00-selesai di Museum Neka, Ubud.

Artists Talk:
"Lintas Media, bebas Rupa"
Narasumber Made Bayak (Perupa. plastikolog), Tjandra Hutama (Ketua Perhimpunan Fotografer Bali), Monez (Ilustrator), Kokoksaja (Video Art)
Sabtu, 26 Oktober 2019, Pukul 18.30-selesai di Bentara Budaya Bali.

Penutupan Pameran:
Diisi dengan "Garis & Eskpresi" oleh Komunitas Batuan dilanjutkan "Piuning Seni Rupa" yang ditandai pemotongan tumpeng dan makan bersama.
Minggu, 10 November 2019, Pukul 15.30-selesai di Museum Puri Lukisan Ubud.


PAMERAN BALI MEGARUPA

PELINDUNG
Kepala Dinas Kebudayaan
Provinsi Bali

PENASIHAT
Anak Agung Rai
Museum ARMA
Pande Wayan Sutedja Neka
Museum Seni Neka
Tjokorda Bagus Astika
Museum Puri Lukisan

PENGARAH
Ketut Budiana
Nyoman Erawan

KURATOR
Warih Wisatsana
Wayan Sujana Suklu
Made Susanta Dwitanaya
Wayan Jengki Sunarta

TIM KREATIF
KETUA
Made Kaek Dharma Susila
WAKIL KETUA
Ema Sukarelawanto

ANGGOTA
Kadek Wahyudita
Vanesa Martida
Ni Ketut Sudiani
Ni Made Siswan Dewi
I Guasti Ngurah Gde Cakra Giri Asmara F
Ni Luh Febri Darmayanti
SR Alwi
Wayan Naya
Oka Astika
Oka Sudarsana
Jangkung Wijanarko
Ketut Kariasa
Putu Aryastawa

Dewa Nyoman Sumertayadnya
Denpasar, Agustus, 2019
Share this Article